Beberapa tahun terakhir, olahraga bersepeda banyak diminati oleh pebisnis dan industri sport apparel. Tidak hanya atlet profesional yang kini menjadi bidikan mereka, klub biking lokal turut mendapat bagian. Mulai dari jersey, sepeda, aksesoris atau dukungan finansial. Langkah pelaku industri menggaet penggiat olahraga sepeda seperti ini bukan tanpa alasan. Karena dalam dunia sepeda internasional, kerjasama mutualisme antar produsen dan atlet sudah menjadi hal yang familiar.

Sebut saja Adam Craig, perebut dua kali juara U.S Cross Country yang digaet dengan industri raksasa, Giant Bicycles. Atau Steve Smith yang bergabung dengan Red Bull dalam disiplin downhill MTB. Di Indonesia sendiri, meski belum banyak, departemen marketing industri apparel secara konsisten mulai menggandeng nama dan klub potensial di Indonesia. Beberapa nama penyedia apparel seperti Hardside Gear, Pol!, Ergy Jersey, Things Bike, dan Bois Tois serta industri non-brand yang tidak membenderakan suatu brand dalam bisnisnya sedang gencarnya menebar benih, berkontribusi dengan penyaluran sponsorship dalam berbagai bentuk.

Bagi tim lokal adanya upaya dari endorser sport apparel untuk menjalin kerjasama disambut baik. Dan dari semua dukungan kebutuhan extreme biking, jersey menjadi favorit. Atlet dan klub mendapat seragam kustom yang bermanfaat selain sebagai pelindung kulit dan evaporator keringat deras saat bergowes, juga simbol kebanggaan untuk menunjukkan dukungan dan kecintaannya pada olahraga yang dikecimpungnya. Menyusul, timbul kreatifitas untuk kelompok-kelompok pesepeda, komunitas, dan interest group (kelompok dengan tujuan tertentu) untuk memanfaatkan jersey sebagai identitas mereka.

Program kerjasama biking branding pun naik ke tahap berikutnya, dari hanya sekedar menyediakan, produsen lantas melihat feedback eksternal yang datang dari atlet yang menggunakannya di lapangan. Soal kualitas material dasar hingga desain dan atribut-atribut tertentu menyangkut keamanan dan kenyamanan. Teknik-teknik dalam produksi diterapkan, desain anyar dan modern juga dijajal. Mengangkat mutual value keduabelahpihak.

Tidak luput dalam ajang IDH 2015, sejumlah penyedia apparel serta industri olahraga bersaing dalam mengemas berbagai produk sponsorship untuk atlet dan klub andalannya. Masing-masing brand menyuplai tim-tim downhill di tanah air yang akan mengikuti kejuaraan nasional tersebut. Siap menargetkan podium dengan menggunakan bendera merek tertentu.

Zzcycles misalnya, hadir dengan gaconya sendiri M.U.D Brothers Racing MTB. Patrol Mountain Bike turun full team dengan namanya sendiri, Patrol Mountain FCJ. Demikian juga dengan tim Jemping Downhill yang dipercaya oleh jersey-maker asal ibukota, Bois Tois.

Tentunya geliat ini tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Harus ada inovasi lagi kedepannya, membawa level kerjasama antar atlet dan sponsor ke ajang lebih tinggi lagi, dengan target yang lebih besar. Sebagai tanda konstannya kemajuan dunia sepeda gunung nasional. Indonesia Downhill sendiri menjadi satu ajang bergengsi tempat produsen dan pegowes bertemu, saling berebut kemenangan yang tidak hanya mewakili satu nama atau komunitas tertentu tapi juga atas nama industri olahraga komersial di Indonesia.